Ahlan Wa Sahlan. Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Beli Sekarang & Dapatkan Banyak Bonus Belanja

My Moslem Lifestyle

Jangan Menjadi Toxic Parents – Orangtua yang Meracuni Psikologis Anak

Gerai Shagufta – Anak-anak berhak lahir dalam keluarga yang bahagia dengan orangtua yang mencintai anak seutuhnya. Akan tetapi, pada kenyataannya banyak sekali anak-anak yang tumbuh dengan orangtua yang destruktif, kasar, dan mampu meracuni psikologis anaknya.

Dalam istilah psikologi, orangtua seperti itu sering disebut sebagai Toxic Parents. Istilah toxic parents tidak hanya berlaku untuk orangtua yang memiliki perilaku buruk seperti melakukan kekerasan fisik atau verbal. Toxic Parents juga berlaku untuk orangtua yang melakukan tindakan yang bisa meracuni keadaan psikologis anak.

Ini jelas lebih berbahaya karena jenis toxic parents ini tidak terlihat. Orangtua bisa saja terlihat normal. Mereka memenuhi kebutuhan anak, tidak menyakiti fisik, dan menginginkan yang terbaik untuk anak. Akan tetapi, ada beberapa perilaku dari orangtua ini yang justru bisa menjadi racun dalam pribadi anak.

Kita tentu sepakat bahwa tidak ada orangtua yang secara sengaja ingin membuat anaknya menderita atau berlaku kejam pada anaknya. Akan tetapi, orangtua juga manusia. Mereka juga bisa berbuat salah yang tanpa disadari bisa menjadi racun dalam diri anak. Mungkin, kita pun tanpa disadari telah menjadi korban toxic parents dari pola asuh atau perilaku dari orangtua kita dulu.

Mari kita ulas hal-hal yang menyebabkan toxic parents

  1. Perasaan mencintai yang berlebihan sampai-sampai orangtua ingin mengontrol hampir seluruh aspek kehidupan anaknya.
  2. Ketidakmampuan orang tua untuk berempati kepada anak.

Apa saja perbuatan yang termasuk dalam kategori Toxic Parents?

Pertama, Ekspektasi Berlebihan

Ini adalah salah satu tanda toxic parents yang paling sering terjadi dan kita sendiri pun pasti pernah mengalaminya. Ada kalanya mimpi dan cita-cita anak dibuyarkan dengan ekspektasi-ekspektasi orangtua sendiri yang berlebihan. Ketika anak-anak ingin menjadi seorang musisi, misalnya, orangtua membuyarkan mimpi-mimpinya dengan memberikan segala komentar negatif tentang musisi. Kemudian mengarahkan anak-anak untuk menjadi apa yang orangtua inginkan.

Dengan ekspektasi yang berlebihan, orangtua berpikir bahwa ini adalah untuk kebaikan anak. Mereka akan berbahagia jika menuruti apa yang orangtua rencanakan untuknya. Akan tetapi, seharusnya orangtua bisa berpikir dari sudut pandang anak. Apakah “ini” memang keingingan anak? Apakah ini memang mimpi anak? Dan apakah anak mampu untuk memenuhi semua ekspektasi kita? Sering kita temui bahwa ekspektasi yang berlebihan tanpa memikirkan posisi anak akan membuat anak-anak terbebani. Ini sering ditemukan pada orangtua generasi terdahulu. Apakah tidak sebaiknya generasi kita memutus mata rantai perilaku ini?

Kedua, Membicarakan Keburukan Anak

Sama seperti orangtua, anak-anak sejatinya juga memiliki harga diri. Ucapan sepele seperti, “Waduh, anakku ini susah sekali disuruh bangun pagi!” Juga termasuk kategori membicarakan keburukan anak. Anda harus tahu bahwa membicarakan keburukan anak, apalagi didengar langsung oleh si anak bisa melukai hatinya.

Jika hal ini terus dilakukan, anak-anak bisa kehilangan kepercayaan diri, menumbuhkan sikap rendah diri, dan mempermalukan anak sehingga orangtua, sebaiknya jagalah privasi anak.

Ketiga, Egois Orangtua

Kriteria ini biasanya selalu mengukur segala sesuatu sesuai dengan perasaannya. Perasaan orangtua adalah salah satu tolak ukurnya. Pernahkan Bunda jengkel kemudian memarahi anak dengan kalimat, “Apa kalian tidak kasihan dengan Bunda?” “Apa kalian ingin Bunda cepat mati?” Sepertinya sepele, ya?!

Akan tetapi, tindakan seperti ini bisa membuat anak merasa terbebani. Mereka harus bertanggungjawab atas perasaan orangtuanya. Bila maksudnya adalah agar anak memahami perasaan orang lain atau agar anak bisa berempati, sebaiknya gunakan cara lain yang lebih efektif dan tentu dengan pendekatan yang tepat pula.

Keempat, Menjadi Monster

Jika kalian tidak ingin anaknya menjadi monster, maka janganlah bersikap seperti monster. Orangtua yang suka memukul dan membentak anak adalah monster bagi anak-anak. Mungkin, tujuannya adalah agar anak bisa disiplin dan tidak manja.

Akan tetapi, tindakan seperti ini justru akan membuat anak menjadi monster seperti Anda. Anda harus sadar bahwa tugas orangtua adalah memberikan rasa aman untuk anak-anaknya. Kekerasan bukanlah tindakan yang tepat untuk mendidik anak-anak.

Kelima, Menjadi Rentenir

Ini adalah istilah untuk orangtua yang selalu mengungkit tentang besarnya biaya yang telah dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan anak. Hal tersebut dijadikan alat supaya anak-anak mengikuti kemauannya. Semacam mekanisme pertahanan orangtua ketika anak-anak ingin menentukan jalan hidupnya sendiri.

Sebagai anak, kita tentu sepakat bahwa orangtua telah berkorban begitu banyak untuk anak-anak demi masa depan anak yang cemerlang. Akan tetapi, sekali lagi, anak-anak juga berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Jangan memaksa anak untuk mewujudkan mimpi orangtua yang belum tercapai.

Keenam, Melontarkan Candaan yang Mengecilkan Hati Anak

Lelucon ringan tentang warna kulit, bentuk tubuh, atau rambut yang gimbal sekilas terlihat biasa saja. Orangtua sering sekali membuat hal tersebut sebagai bahan candaan di depan saudara. Akan tetapi, pernahkah kamu melihat bagaimana ekspresi anakmu saat kamu melontarkan candaan-candaan tersebut? Jika anak anda terlihat sedih atau marah, itu artinya candaan kita sudah keterlaluan.

Hal ini bukan berarti anak kamu “drama” atau terlalu sensitif. Kamu telah melanggar privasinya sebagai sesama manusia. Bisa jadi harga dirinya terluka, oleh karena itu bersegeralah minta maaf.

Ketujuh, Selalu Menyalahkan Anak

Selayaknya kehidupan, naik-turun adalah hal yang sangat wajar. Kita tidak bisa selalu mengharapkan kehidupan yang baik. Ada satu sisi di mana keluarga sedang dalam kondisi yang buruk, orangtua selalu menyalahkan anak.

Jika kamu berlaku demikian, itu berarti kamu telah menjadi toxic parents untuk anak-anakmu. Toxic Parents memberikan efek negatif yang sangat besar untuk anak-anak. Anak-anak bisa tersiksa secara mental. Anak-anak tipe penurut akan berusaha sekeras mungkin untuk membahagiakan orangtuanya dengan cara menekan segala hal yang mereka inginkan.

Di sisi lain, anak dengan tipe pemberontak akan menjadi pembangkang untuk orangtuanya. Anak-anak bisa menderita sakit mental maupun fisik. Anak-anak bisa mengalami stres berkepanjangan. Efek paling buruknya adalah anak bisa berubah menjadi “monster” yang menakutkan, terutama untuk anak-anak mereka kelak.

Jika kamu menjadi toxic parents, anak tidak akan merasa senang ketika berbicara, menghabiskan waktu, atau berpikir tentangmu. Bahkan anak bisa menjadi sangat ketakutan, depresi, atau emosional hingga melampiaskannya pada hal lain. Figur orangtua tentu saja akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Oleh sebab itu, sebagai orangtua yang baik, kamu tentu harus memberi pola asuh yang tepat untuk anak.

Jangan sampai pola asuh yang buruk membuat keutuhan keluarga menjadi bermasalah. Bila kamu merasa memiliki ciri-ciri toxic parents, tidak ada salahnya bagimu untuk secara perlahan memperbaikinya. Selain itu, kamu juga dapat berkonsultasi pada psikolog keluarga untuk mendapat bantuan secara profesional dalam mengatasi masalah ini.

Perlu kamu ingat, para orangtua! Bahwa anak adalah titipan yang senantiasa harus selalu kita jaga. Tidak ada orangtua yang sempurna, tidak ada orangtua yang tidak melewati kegagalan dalam mendidik anak, Akan tetapi yang ada adalah orang tua yang mau terus belajar memperbaiki dan melakukan pendekatan kepada anak, sehingga dapat menelurkan generasi unggulan di masa depan.

Semoga membantu.

2 thoughts on “Jangan Menjadi Toxic Parents – Orangtua yang Meracuni Psikologis Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Select the fields to be shown. Others will be hidden. Drag and drop to rearrange the order.
  • Image
  • SKU
  • Rating
  • Price
  • Stock
  • Availability
  • Add to cart
  • Description
  • Content
  • Weight
  • Dimensions
  • Additional information
  • Attributes
  • Custom attributes
  • Custom fields
Click outside to hide the compare bar
Compare
Wishlist 0
Open wishlist page Continue shopping